Aku serupa hitam di gelap malam, yang tak perlu menghilang karna
adapun tak memiliki tempat. Entah sejauh mana tetap hitam.
Tak ada yang muluk dari obat luka, kesempatan untuk bernafas dan air putih yang melegakan kerongkongan.
Tak ada yang muluk dari obat derita, selain tawa canda, doa penyejuk hati dan air mata saja.
Tak ada yang muluk dari sahabat yang setia, selain penerimaan dan teman bicara.
Tak ada yang muluk dari melihatmu disana, selain
Keikhlasan yang menjelma dari doa dan kerelaan.
Tak ada yang muluk dari menatap senja, selain kopi jahe dan obrolan saja.
Dan karna yang muluk adalah berharap cinta kepada malam yang tak akan pernah selingkuh dari gelapnya.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar